Friday, August 30, 2013

Cultural Night



Whoa,it’s almost a year passed since I updated my blog!!
Holla there,I’m back with bunch of unorganized story and event. Karena penulis sedang (sok) konsen menghadapi hal yang menjadi momok seluruh mahasiswa tingkat akhir [*eaa], makanya ini mau pemanasan ngupdate blog dulu. Kali ini mau cerita tentang wayang orang; apa? Belum pernah nonton? Oo iya, aku pun baru sekali kemarin. :3
Sebagai warga Solo pasti tau Sriwedari dong yaa. Tapi apa ngerti di kompleks selebar itu di jantung kota ada apa aja? Selain Taman Hiburan Rakyat (THR) sama MbuSri tempat hunting buku murah,ada juga Gedung Wayang Orang (GWO) yang tiap malam selain hari Minggu ada pementasan dengan harga tiket (hanya) Rp 3.000 saja. Nah, di sini saya mau cerita pengalaman pertama kali nonton wayang orang selama 22 tahun saya hidup di (pinggiran) Solo. Oiya, nontonnya sama Benny dong. Dia yang pertama ngajakin cultural visit murah meriah,hhe. :)
Pertama menginjakkan kaki di GWO, sudah menyiapkan batin kalo yang nonton nantinya pasti orang ‘berumur’ dan beberapa bule yang bila ditotal hanya sedikit. Tapi cukup melegakan karena malam itu lumayan penuh di kursi depan, walau kapasitas gedung cukup besar. Dan lumayan ada anak-anak muda yang diajak orang tuanya, pokoknya menurut Benny yang pernah sebelum itu nonton ya lumayan deh. Kami pilih kursi di depan tengah biar lebih deket sama live music yang tidak lain adalah gamelan. Sekilas panggung cukup sederhana tapi cukup menarik perhatian, dan gamelannya berada di depan-bawah panggung jadi gak keliatan kalo lampu dimatiin. Untuk standar ruangan ya cukup lah, ada air conditioner  lumayan baru tapi kayaknya ndak nyala atau lagi pengiritan. 


Cerita dalam Pertunjukan Wayang Orang

Sumantri dan Sukasrana (sumber: wayang.files.wordpress.com)
Lakon dalam pertunjukkan malam itu adalah ‘Sumantri Sukasrana’ nama 2 tokoh utamanya. Dikisahkan Sumantri pamit pada ayahnya hendak pergi mengabdi pada Harjuna Sasrabahu di Maespati. Oleh ayahnya, Sumantri diberi gaman (senjata) pusaka. Ketika ayahnya bertanya apa lagi yang Sumantri butuhkan, ia menjawab bahwa Sumantri ingin ditemani oleh Sukasrana adiknya. Maka terkejutlah ayahnya dan bertanya sekali lagi apakah Sumantri yakin dengan perminttan tersebut. Apa pasal? Berbeda dengan Sumantri yang gagah dan rupawan, Sukasrana berwujud Buto Bajang yang buruk rupa, keriting, cebol, dan hitam. Namun dibalik wujudnya yang bagai Buto itu, kesaktian Sukasrana setingkat lebih tinggi daripada Sumantri. Kedua kakak-beradik tersebut selama ini selalu bersama tak terpisahkan dan saling menyayangi. Ayahnya bertanya apakah wujud Sukasrana yang menyeramkan tersebut tidak membawa ganjalan nantinya, dan apakah Sumantri tidak malu dan dapat menjaga adiknya apapun yang terjadi? Sumantri bersumpah,selama hidupnya tidak sekali pun ia merasa malu akan adiknya dan berjanji akan selalu menjaga Sukasrana karena mereka saling menyayangi. Maka berangkatlah mereka berdua ke Maespati.
Sumantri memboyong Sang Puteri (dok. pribadi)
Ketika sampai di Maespati dan bertemu dengan Prabu Harjuna Sasrabahu, Sumantri memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud hendak mengabdi. Maksud itu diterima dengan syarat Sumantri harus dapat memenangkan sayembara dan memboyong seorang Puteri Rempong (maaf gak inget namanya) ke Maespati. Hal itu bukan perkara sulit bagi Sumantri yang dikenal sebagai Ksatria hebat. Ia mengalahkan semua lawan dengan mudah dan berhasil memboyong Puteri Rempong yang diiringi dengan Puteri Dhomas. Tapi Sumantri tak segera pulang ke Maespati, melainkan malah menantang Prabu Harjuna di perbatasan untuk perang tanding. Singkat cerita, Sumantri tidak dapat mengalahkan Harjuna meski dengan Pusakanya sekali pun. Mengakui kesaktian Sang Raja, Sumantri menyerahkan Puteri Rempong padanya.

Sebagai hukuman karena Sumantri sudah menantangnya, Prabu Harjuna meminta nya untuk membuatkan taman seindah taman-taman di khayangan dalam satu malam. Mendengar hal tersebut, Sumantri langsung lemas dan merasa  hal itu mustahil dilakukan. Melihat kakaknya merana, Sukasrana bertanya apa ada hal yang mengganjal kakak kesayangannnya tersebut. Setelah menceritakan permasalahan yang dihadapi, Sukasrana malah tertawa dengan jenaka dan menyebutkan bahwa hal itu sangat mudah dilakukan olehnya. Ia berjanji untuk membantu membuat taman khayangan dan ia menepatinya, taman yang muncul setelah Sukasrana bertapa itu diberi nama Sriwedari.

Melihat hasil kerja (yang dikira) Sumantri itu,Prabu Harjuna sangat senang dan menghadiahkan Taman Sriwedari pada Puteri Rempong dan Dhomas”nya untuk tempat bersenang-senang. Di tengah canda ria para puteri, Sukasrana muncul dan mengagetkan semua puteri yang langsung menjerit dan lari. Prabu Harjuna kemudian mendengar cerita Puteri Rempong yang melihat sosok Buto Bajang dan meminta pada Sang Prabu untuk memusnahkannya. Tugas itu lalu diberikan pada Sumantri untuk memusnahkan Buto tersebut. Sumantri bagai tersambar petir ketika menerima mandat tersebut, tidak berani ia mengakui bahwa Buto Bajang tersebut adalah adiknya sendiri. Maka ia berjalan gontai dengan wajah galau dan sesekali menangis, menghadapi dilema untuk membunuh adiknya sendiri atau dihukum oleh Prabu Harjuna Sasrabahu.
Sekali lagi Sukasrana mendapati kakaknya bersedih hati dan dengan baik hati ia menawarkan bantuan apapun asal kakaknya senang. Sumantri awalnya mengelak untuk bercerita tapi Sukasrana tetap mendesak untuk membantu meringankan beban kakaknya. –sampai di sini akan ada 2 ending-
a) Menurut yang saya tonton
Akhirnya Sumantri berterus terang jika ia diperintahkan Prabu Harjuna untuk melenyapkan sosok Buto Bajang yang terlihat di Taman Sriwedari dan membuat takut Para Puteri, jika gagal maka Sumantri yang akan mati. Mendengar hal itu, Sukasrana ikut terduduk lemas dan menyesal karena menyebabkan kakaknya terlibat dalam masalah yang begitu besar. Sumantri meyakinkan bahwa apapun yang terjadi ia tidak akan membunuh adiknya sendiri. Tapi Sukasrana mencoba merebut keris dan meminta Sumantri untuk membunuhnya saja daripada Sumantri dihukum mati. Terjadi perebutan sengit dan karena Sukasrana lebih kuat dari Sumantri, pada akhirnya kerisnya menancap di perut sang adik. Sambil meregang nyawa dan di sela tangisan kakaknya, Sukasrana mengatakan jika ia rela mati karena ia tak dapat tetap hidup tanpa Sumantri. Lalu ia menghembuskan nafas terakhirnya..


b) Menurut penuturan orang tua

Sumantri kemudian menyuruh Sukasrana pergi sejauh mungkin dari Taman Sriwedari, jika tidak ia akan diburu oleh pengawal kerajaan. Sukasrana menolak dan dengan memelas ia memohon untuk tetap ikut kakaknya, “Aku elu akang ati.. akang ati.. aku elu..” karena mereka tidak terpisahkan sejak kecil. Dengan sangat terpaksa di tengah kesedihan mendalam, Sumantri membidikkan busur dengan anak panah ke arah Sukasrana untuk menakut-nakutinya saja. Tapi Sukasrana tetap bergeming, dan malah maju menghampiri Sumantri. Karena kalut,tangannya tidak sengaja terlepas dan panah tepat mengenai adiknya. Sumantri begitu menyesal dan menangiisi sambil memeluk adiknya erat, yang hingga di ujung hidupnya berujar, “Aku elu akang ati.. akang ati.. aku elu..” (Dikenal juga dengan judul Sumantri Ngenger.red)
-akhir dari 2 ending-
[saya nangis dengan suksesnya ketika Sukasrana mati. T^T]
Di penghujung cerita, ayah mereka berdua menuturkan bahwa Sukasrana adalah ari-ari dari Sumantri sendiri. Jadi mereka berdua adalah suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Menurut versi yang saya tonton sih, arwah Sukasrana mendatangi Sumantri dan berkata bahwa ia belum bisa menuju khayangan pada saat itu juga dan besok ketika Sumantri meninggal ia akan datang menjemput kemudian mereka berdua menuju khayangan bersama-sama. [FIN]

Kalo saya pribadi lebih suka ending yang b) soalnya lebih tragis dan nggeloake bianget. Betapa setianya Sukasrana dan rela melakukan apa saja demi kakak yang disayanginya. Dalam hal ini Sumantri tidak bisa dibilang mengkhianati, tapi memang pengecut yang tidak berani mengakui adiknya yang berwujud Buto Bajang itu. Dan juga, Sumantri ingkar janji kepada ayahnya untuk tetap menjaga Sukasrana dan malah terjadi tragedi. Padalah di awal cerita ayahnya sudah mengingatkan apakah Sumantri yakin mau mengajak Sukasrana, dengan konsekuensi yang harus ia tanggung. Mungkin kalian yang baca agak susah membayangkan adegan”nya ya? They perform it so beautifully. Properti dan kostum sangat menarik dan memanjakan mata, backdrop cukup bervariasi dan membawa suasana. Yang terlibat di satu pementasan itu gak sedikit hlo, bahkan lebih banyak dari jumlah penontonnya. Dari pemain dan figuran, penabuh gamelan (disebutnya Niaga) dan sinden, dhalang, serta kru belakang layar. Jangan membayangkan pergantian latar belakang yang sudah otomatis ya, it’s a classic and I don’t mind at all! Setelah dipikir setiap bangsa punya kebudayaan serupa, kalau di Eropa barat ada Opera, di Amerika ada Broadway, di Cina ada Potehi, maka kita punya Wayang Orang dan ini aset kebudayaan yang besar! Dengan perhatian dan support dari Pemerintah (yang entah kapan terwujud), saya yakin pertunjukan semacam ini akan semakin banyak peminat dan tentu pelestarinya. Demikian review dari saya.. ;)

Kembali ke non-teknis pertunjukkan. Yang cukup disayangkan itu ya sistem manajemennya kurang profesional secara dikelola sama pemkot,harus banyak maklum deh. Pertunjukkan dijadwalkan mulai jam 20.00 wib, emang sih pintu GWO dibuka tepat jam segitu tapi setelah duduk di dalam kita harus nunggu setengah jam. Entah nunggu pemainnya siap apa gimana, yang pasti penonton udah gak sabar pengen liat. Kemudian di sebelah GWO kan ada THR yang ketika malam dipakai untuk acara Koes-Plus’an jadi musiknya sampe kedengerang dari dalam GWO dan cukup ganggu konsentrasi sih. Tapi untuk tiket seharga Rp 3.000 pertunjukkan malam itu udah TOP BANGET!! Mengaduk-aduk perasaan aku gituh. Sebenernya sih ga keberatan kalo harga tiketnya naik tapi masalah manajemennya diperbaiki.

Masih penasaran sama publikasi dari pertunjukkan ini, apa disiarkan di radio lokal juga? Soalnya kan lumayan untuk sekedar informasi judul pementasan hari itu, dan menunjukkan bahwa mereka masih tetap eksis. Dan harusnya  bentuk support pemkot di bagian itu aja,soalnya vital. Tanpa publikasi, akan tetap ada penonton setia, tapi sungguh sayang pertunjukkan semacam ini hanya disaksikan segelintir orang yang setengah tertidur. Bahkan tidak ada tepuk tangan setelah tirai diturunkan, kurang ngenes opo? Sedangkan di bioskop saja kalian nggak ragu kasih applause kalo film’nya bagus, padahal aktornya kan gak denger applause kalian juga. Nha ini, pemainnya Cuma berjarak kurang dari 10 meter dari penontonnya dan live action. Saya sempat gatal pengen tepuk tangan tapi kok udah langsung pada pulang, seperti halnya Sumantri, saya pun pengecut dan gak jadi tepuk tangan. Pengen kasih tau mereka sih kalo saya appreciate dan menikmati pertunjukkan. Kepuasan seorang artis adalah ketika mereka perform tapi kebahagiaan adalah ketika audience menikmati dan menghargai jerih payah mereka, salah satunya ditunjukkan dengan applause. Oh well,overall, that night was a wonderful experience and I’d love to watch them again. Oiya, satu hal yang mengurangi kepuasan adalah gagal foto bareng sama wayangnya. Yang jadi Sumantri cakep banget,bok! Prabu Harjuna juga lumayan kece. (*o*)